0

Penelitian Meta Analisis

Penelitian Meta Analisis

a. Pengertian
Mungkin kita sudah sering mendengar tentang apa yang dimaksud dengan penelitian meta analisis, atau mungkin sebagian dari kita juga masih dengan penelitian meta analisis. Penelitian meta analisis merupakan salah satu dari banyak penelitian yang ada. Berbeda dengan penelitian-penelitian yang lainnya, dalam penelitian analisis, kita mengkaji beberapa penelitian dalam kurun waktu tertentu yang membahas satu topik tertentu yang sejenis. Berikut merupakan pengertian penelitian meta analisis menurut para ahli :
1. Meta-analisis adalah tehnik yang digunakan untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara kuantitatif dengan cara mencari nilai efek size. Efek size dicari dengan cara mencari selisih rata-rata kelas eksperimen dengan rata-rata kelas control, kemudian dibagi dengan standar deviasi kelas control.
Barbora 2009; Sutrisno, Hery, Kartono 2007
2. Meta analisis sebagai suatu metode sistematis yang menggunakan analisis statistik dengan menggabungkan data dari penelitian independen untuk mendapatkan estimasi numerik dari efek keseluruhan dari suatu prosedur tertentu atau variabel pada hasil yang ditetapkan.
Levino
3. Meta-analisis merupakan studi dengan cara menganalisis data yang berasal dari studi primer. Hasil analisis studi primer dipakai sebagai dasar untuk menerima atau mendukung hipotesis, menolak/menggugurkan hipotesis yang diajukan oleh beberapa peneliti
Sugiyanto,2004
4. Meta-analisis adalah salah satu upaya untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara kuantitatif. Dengan kata lain, meta-analisis sebagai suatu teknik ditujukan untuk menganalisis kembali hasil-hasil penelitian yang diolah secara statistik berdasarkan pengumpulan data primer.
Sutjipto, 1995
5. Meta analisis merupakan teknik pengembangan paling baru untuk menolong peneliti menemukan kekonsistenan atau ketidakkonsistenan dalam pengkajian hasil silang dari hasil penelitian.
Borg, 1983

b.Tujuan
Berikut merupakan beberapa tujuan utama dari penelitian meta analisis, antara lain:
1. Untuk menyelesaikan ketidakpastian hasil laporan.
2. Untuk menjawab pertanyaan yang tidak diajukan sebelumnya.
3. Untuk memperoleh estimasi effect size, yaitu kekuatan hubungan ataupun besarnya perbedaan antar-variabel
4. Melakukan inferensi dari data dalam sampel ke populasi, baik dengan uji hipotesis (nilai p) maupun estimasi (interval kepercayaan)
5. Melakukan kontrol terhadap variabel yang potensial bersifat sebagai perancu (confounding) agar tidak mengganggu kemaknaan statistik dari hubungan atau perbedaan.

c. Jenis-jenis
Penelitian meta analisis memiliki beberapa jenis yang dapat dilakukan oleh para peneliti yang akan melakukan penelitian meta analisis. Penelitian-penelitian itu antara lain :
1. Penelitian Eksperimental
Penelitian eksperimental adalah metode ilmiah yang paling meyakinkan. Karena peneliti sebenarnya memberikan perlakuan yang berbeda dan kemudian studi efek mereka, hasil dari penelitian jenis ini cenderung mengarah pada menerima atau menolak interpretasi secara jelas.
2. Penelitian Korelasional
Jenis penelitian ini dapat membantu kita membuat prediksi lebih cerdas. Singkatnya, penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variabel yang satu atau lebih ada hubungan dari beberapa tipe. Pendekatan ini memerlukan manipulasi tidak ada pada bagian peneliti selain melayani iklan-instrumen yang diperlukan untuk mengumpulkan data yang diinginkan.
3. Penelitian Penyebab-Perbandingan
Tipe lain dari penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan penyebab atau konsekuensi dari perbedaan antara kelompok-kelompok orang, ini disebut kembali pencarian kausal-komparatif. Namun demikian, meskipun masalah penafsiran, studi kausal-komparatif adalah nilai dalam mengidentifikasi kemungkinan penyebab variasi yang diamati dalam pola perilaku siswa. Dalam hal ini, mereka sangat mirip dengan studi korelasional.
4. Penelitian Survei
Tipe lain dari menentukan data penelitian untuk memperoleh karakteristik yang spesifik sebuah kelompok. Ini disebut survei pencarian ulang. Ini macam pertanyaan terbaik dapat dijawab melalui berbagai teknik survei yang mengukur sikap berbagai faktor terhadap kebijakan pemerintahan. Sebuah survei deskriptif melibatkan pasangan pertanyaan yang sama menanyakan (sering disiapkan dalam bentuk pertanyaan tertulis kuesioner atau tes kemampuan) dari sejumlah besar individu seluruh siswa melalui pos, melalui telepon, atau secara pribadi. Ketika sebuah jawaban untuk satu set pertanyaan diminta secara pribadi, penelitian ini disebut wawancara. Kemudian tanggapan dicatat dan dilaporkan, biasanya dalam bentuk frekuensi atau persentase dari mereka yang menjawab dengan cara tertentu untuk setiap pertanyaan.
5. Penelitian Etnografi
Penekanan dalam jenis penelitian adalah mendokumentasikan atau menggambarkan pengalaman sehari-hari individu dengan mengamati dan wawancara mereka dan orang lain yang relevan. Sebuah ruang kelas SD, misalnya, mungkin dapat diamati pada kebiasan sebagai dasar, para siswa dan guru dilibatkan mungkin diwawancarai dalam upaya untuk menjelaskan, sepenuhnya dan sebanyak mungkin, apa yang terjadi di kelas.
6. Penelitian Sejarah
Anda mungkin sudah akrab dengan sejarah-pencarian kembali. Dalam hal ini jenis penelitian, beberapa aspek masa lalu dipelajari, baik oleh meneliti dokumen periode atau oleh individu wawancara yang hidup selama ini. Peneliti kemudian mencoba untuk merekonstruksi sebagai ketepatan mungkin apa yang selama waktu itu dan untuk menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Masalah utama dalam penelitian sejarah adalah memastikan bahwa dokumen atau individu benar-benar datang dari (atau hidup selama) periode yang diteliti, dan sekali ini tidak dapat dipungkiri, bahwa memastikan apakah dokumen atau perkataan individu itu benar.
7. Penelitian Tindakan
Penelitian Tindakan berbeda dari semua metodologi sebelumnya dengan dua cara mendasar. Yang pertama adalah bahwa generalisasi untuk orang lain, pengaturan, atau situasi adalah minimal penting. Mencari generalisasi yang kuat, penelitian tindakan (sering guru atau profesional pendidikan lainnya, lebih baik daripada peneliti profesional) fokus pada mendapatkan informasi yang akan mampu untuk merubah kondisi mereka dalam situasi tertentu yang mereka secara pribadi terlibat.

d. Metodologi yang digunakan
Berikut merupakan metode yang digunakan dalam sebuah penelitian meta analisis, yaitu :
1. Glass (1981) fokus pada deteksi dari moderator variabel.
2. Hedges dan Olkin (1985) memakai teknik weighted least squares
3. Rosenthal dan Rubin (1991) sama seperti Hedges-Olkin, bedanya hanya pada test signifikansi untuk mengkombinasikan effect size
4. Hunter dan Schmidt (1990) bedanya dengan yang lain adalah metode ini berusaha mengkoreksi error potensial sebelum meta-analysis mengintegrasikan effect study antar studi.
5. Analysis of Moderator EffectsBerikut ini adalah Metode umum dalam Detecting/Assessing Moderator Effects
a. Graphing – OLS regression
b. Q Stastistics (chi-square test) – WLS regression
c. Variance analysis – Partition test
d. Outlier test
6. Mediator Assessment Methods
Merupakan teknik yang penting dalam metode meta-analysis yang berfungsi untuk meng-address hubungan struktural, menganalisa apakah korelasi matriks dari populasi umum mendasari sebuah himpunan dari hasil empiris yang didapatkan. Ada dua alternatif pendekatan untuk mempelajari mediator effect, yaitu:
a. Mengkombinasi dan menganalisa korelasi pengembangan meta-analysis
b. Studi koefisien secara langsung dari kepentingan sebagai effect size

Kesimpulan :
Penelitian meta analisis merupakan sebuah penelitian dimana peneliti mengkaji dua atau lebih penelitian, dimana penelitian-penelitian tersebut membahas tentang satu topik yang sama untuk mengabil suatu kesimpulan dari penelitian-penelitian tersebut. Dalam penelitian metaanalisis memungkinkan adanya pengkombinasian hasil-hasil yang beragam dan memperhatikan ukuran sampel relatif dan ukuran efek. Tujuan utama dari penelitian meta analisis sendiri yaitu untuk menyelesaikan ketidakpastian hasil dari laporan-lapoan pada penelitian-penelitian yang ada.

Referensi :
http://emergencyelement.blogspot.com/2013/04/penelitian-meta-analisis.html diakses pada 6 April 2015 pukul 19:00
http://fni-statistics.blogspot.com/2013/10/penelitian-meta-analisis.html diakses pada 7 April 2015 pukul 19:00
http://darzabnintama.blogspot.com/2013/04/penelitian-meta-analisis_1335.html diakses pada 7 April pukul 19:04
http://syehaceh.wordpress.com/2008/05/15/konsep-meta-analysis/ diakses pada 8 April 2015 pukul 18:00
http://catatananakkuliah.blogspot.com/2010/03/meta-analisis-dan-isu-kebijakan-publik.html diakses pada 8 April 2015 pukul 18:30

0

Apakah forum diskusi facebook merupakan sebuah inovasi?

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

          Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, maka banyak juga pemanfaatan teknologi informasi tersebut yang digunakan terutama dalam bidang pendidikan. Setelah munculnya online learning seperti dengan menggunakan web based learning yang mungkin sudah akrab dan sering kita gunakan dalam mata kuliah-mata kuliah tertentu.

          Sekarang atau baru-baru ini kita juga telah mendengar media sosial yang digunakan untuk keperluan pembelajaran ada seperti digunakannya facebook, twitter, instagram sampai path. Seperti pada mata kuliah Difusi Inofasi Pendidikan ini kita menggunakan media Facebook sebagai media pembelajaran tepatnya sebagai forum diskusi dalam mata kuliah ini.

          Untuk melihat bagaimana pendapat para mahasiswa tentang bagaimana penggunaan facebook dalam mata kuliah Difusi Inovasi Pendidikan ini, bagaimana anggapan mereka apakah penggunaan facebook dalam mata kuliah ini termasuk inovasi atau bukan seperti pertanyaan Ibu Retno pada salah satu post-nya di forum diskusi ini. Maka dilakukannlah survei untuk melihat bagaimana tanggapan dan komentar para mahasiswa seperti yang telah dijelaskan tadi.

1.2  Pertanyaan Survei

  1. Hitung dan tabulasi berapa jumlah yang “ngoceh” (menjawab) serta berapa yang bengong (tidak menjawab)!
  2. Hitung dan tabulasi dari yang “nerocos” itu, berapa yang memilih “YES” , “NO” , dan “YES dan NO”! (Sajikan data anda dengan dalam bentuk tabel, grafik batang, dan grafik bulat 3 dimensi)
  3. Kategorisasi/klasifikasi serta hitung frekuensinya. Misalnya yang memilih “YES” apa saja alasannya dan hitung alasan yang sama. Sajikan pula data ketiga ini dengan bentuk tabel, grafik batang, dan grafik bulat 3 dimensi.

1.3  Tujuan dan Manfaat Hasil Survei

          Survei ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendapat dan tanggapan mahasiswa tentang forum diskusi ini serta bermanfaat untuk kita terutama saya sendiri dalam menganalisa jawaban-jawaban dari mahasiswa yang tergabung di forum diskusi ini sendiri.

1.4  RespondenSurvei                                                                                           

          Survei ini dilakukan terhadap 44 mahasiswa reguler semester 4 jurusan Teknologi Pendidikan yang mengambil mata kuliah Difusi Inovasi Pendidikan.

1.5  Teknik Survei

          Teknik yang digunakan adalah teknik survei dimana data didapatkan dari hasil survei jawaban-jawaban dari pertanyaan Ibu Retno tentang bagaimana pendapat mereka tentang forum diskusi facebook ini apa merupakan sebuah inovasi atau bukan serta alasannya.

 

HASIL SURVEI

  1. Daftar Keaktifan Mahasiswa Mata kuliah Difusi Inovasi Pendidikan di Forum Diskusi di Facebook

Image

Tabel Keaktifan Mahasiswa

 Image

Grafik Batang Keaktifan Mahasiswa

 Image

Grafik Pie Tingkat Keaktifan Mahasiswa

  1. Daftar Jawaban Mahasiswa pada Posting Pertanyaan tanggal 18 Maret 2014 (Yes, No, dan Yes & No)

Image

Tabel Jawaban Mahasiswa

 Image

Grafik Batang Jawaban Mahasiswa

 Image

Grafik Pie Jawaban Mahasiswa

  1. Mahasiswa yang menjawab dengan alasan yang sama

Image

Tabel Mahasiswa yang Menjawab dengan Alasan yang Sama

 Image

Diagram Batang Jumlah Mahasiswa yang Menjawab dengan Aalasan yang Sama

 Image

 Diagram Pie Jumlah Mahasiswa yang Menjawab dengan Alasan yang Sama

PEMBAHASAN

          Dari data yang ada beberapa mahasiswa beranggapan bahwa grup facebook Difusi Inovasi Pendidikan ini merupakan suatu inovasi karena belum pernah menggunakan media sosial sebagai media pembelajaran sebelumnya, melainkan hanya menggunakan web based learning.

          Beberapa lainnya beralasan bahwa forum grup diskusi ini merupakan proses yang berkelanjutan didalam mendiskusikan mata kuliah ini sampai benar-benar memahami materi yang di bahas.

          Untuk jawaban NO, terdapat mahasiswa yang memberi jawaban dengan alasan yang sama, yaitu mereka rata-rata sudah pernah menggunakan media sosial sebagai sarana berdiskusi seperti pada forum ini dan bukan merupakan hal yang berkelanjutan.

          Sedangkan mahasiswa dengan pendapat berbeda menganggap bahwa forum diskusi ini sama saja dengan online learning lainnya seperti web based learning, dan lain-lain.

          Untuk jawaban yes dan no, option ini menjadi jawaban mayoritas mereka beranggapan bahwa hal ini merupakan hal yang baru bagi mereka yaitu dengan menggunakan facebook sebagai media pembelajaran serta untuk menjawab pertanyaan namun bukan merupakan hal yang menyeluruh.

          Mengapa jawaban atau tanggapan yang diberikan oleh mahasiswa itu beragam? Karena menurut saya sendiri mereka menjawab sesuai dengan apa yang mereka mengerti tentang apa itu inovasi sendiri serta sesuai dengan pengalaman mereka karena ada beberapa mahasiswa yang merasa sudah pernah menggunakan facebook sebagai media diskusi seperti ini. Namun ada beberapa mahasiswa yang masih belum jelas dengan pendapat mereka sendiri mungkin dikarenakan karena mereka masih bingung dengan konse inovasi sendiri atau karena mereka bingung untuk mengklasifikasikan apakah forum diskusi yang ada termasuk inovasi atau bukan. Mungkin seharusnya kita sebagai mahasiswa lebih memahami lagi bagaimana konsep inovasi itu sendiri serta teori-tentang inovasi yang ada. Untuk masalah partisipasi ada beberapa mahasiswa yang belum sama sekali ikut menjawab atau berkomentar di forum diskusi ini. Jika seluruh mahasiswa benar-benar berpartisipasi aktif pasti forum ini lebih efektif lagi.                                                  

KESIMPULAN DAN SARAN

          Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun ada beberapa mahasiswa yang menjawab yes dan no namun sebagian besar mahasiswa menjawab “YES dan NO” dengan alasan seperti baru pertama kali  menggunakan facebook untuk pembelajaran tapi menganggap forom ini bukan merupakan hal yang menyeluruh atau pendapat sebaliknya. Sedangkan untuk partisipasi, sebagian besar mahasiswa telah aktif mengikuti forum diskusi ini meskipun ada bebepa mahasiswa yang belum pernah sama sekali mencoba menjawab, berkomentar, atau memposting tugas mereka. Untuk itu masih perlu ditingkatkan lagi partisipasi mahasiswa di forum diskusi ini, dengan aktif menjawab pertanyaan atau dengan berdiskusi aktif di forum ini agar benar-benar menjadi forum diskusi yang diinginkan dan sesuai dengan yang diharapkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://nofia.ilearning.me/1-3-tujuan-dan-manfaat-penelitian/ diakses pada 7 April 2014 pukul 17:00

http://sirusa.bps.go.id/index.php?r=site/konsep diakses pada 7 April 2014 pukul 18:00

https://www.facebook.com/groups/609115625823877/ diakses pada 7 April 2014 pukul 11:00

 

0

Cone of Learning – Edgar Dale

Image

Dale dalam Kerucut Pengalaman Dale (Dale’s Cone Experience) mengatakan:

“hasil belajar seseorang diperoleh melalui pengalaman langsung (kongkrit), kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin keatas puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu. Proses belajar dan interaksi mengajar tidak harus dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajar”. Pengalama langsung akan memberikan informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, oleh karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba”.

Pembelajaran dikembangkan bila merujuk pada kerucut Edgar Dale diatas maka masuk pada seluruh bagian piramida Dale. Penguatannya pada bagian piramida terbawah yaitu benda tiruan dan pengalaman langsung melalui praktek.

Sedangkan Jarvish seperti gambar berikut, pengalaman terbentuk dari hasil interaksi seseorang dengan orang lain. Pengalaman juga merupakan umpan balik dari hasil refleksi pengalaman itu sendiri. Refleksi pengalaman akan membuat individu mampu mengkoreksi (peneliti: juga meredefinisi) apa yang diyakini sebelumnya. Hasil koreksi pun akan membentuk pengalaman baru setelah terjadi interaksi berikut dan berikutnya.

Pada gambar di atas maka dapat disimpulkan bahwa :

  •  Baca (10 %), Dengar (20%), lihat gambar (30%)

Pada tingkatan ini, penggambaran realitas secara langsung sebagai pengalaman yang kita temui pertama kalinya. Pembelajar masih sebagai partispan, sehingga tingkat pemahamannya pun masih sedikit.

  •  Diskusi (50%) dan Presentasi (70%)

Pada tingkatan ini, pembelajar sudah diberikan suatu bentuk permasalahan, sehingga pembelajar aktif berfikir tentang permasalahan tersebut. Pembelajar masih sebagai partisipan, karena masalah yang diberikan masih berupa permasalahan yang konkrit.

  •  Bermain peran, bersimulasi, melakukan hal nyata (90%)

Pada tingkatan ini, pembelajar sudah bertindak sebagai pengamat. Turun langsung dalam mengamati sebuah permasalahan. Sehingga tingkat pemahamannya pun lebih besar.

0

RPP

Pengertian :
Rancangan Kisi-kisi atau pedoman yang digunakan oleh seorang pendidik untuk mengajar siswanya.
RPP dapat berubah karena adanya tuntutan materi-materi pembelajaran serta kebutuhan belajar siswanya
Komponen-komponen yang ada dalam RPP antara lain :
1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
4. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
7. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.
8. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI.
9. Kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

 

Dosen : Ibu Dewi Salma Prawiladilaga, Ibu Diana Ariani 
0

Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran di Era Globalisasi

          Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha.
          Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan TIK secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan TIK akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai TIK dan menggunakannya secara efektif. Selain dampak positif, siswa mampu memahami dampak negatif, dan keterbatasan TIK, serta mampu memanfaatkan TIK untuk mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
          Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook, twitter, friendster, dan myspace membuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah. Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress, blogspot, livejurnal, dan multiply. Membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi saja, tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang kita kelola dan terupdate dengan baik. Di sanalah muncul kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. Namun sayangnya, kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia, termasuk guru dan siswa di sekolah. Para guru TIK dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan TIK untuk mengembangkan kreativitas menulis.
          Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnya kesejahteraan kehidupan masyarakat. Pada era teknologi tinggi (high technology)perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk mengejar perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih dilakukan secara konvensional.
PEMBAHASAN
 
Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran di Sekolah
          Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai. pengetahuan)
           Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah.
          Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke, di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan (5) dari waktu siklus ke waktu nyata.Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik beajar secara aktif.
           Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching”atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, video tape, transmisi satellite atau komputer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).
          Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dan sebagainya.
          Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. Adanya laboratorium virtual (virtual lab)memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut.
          Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut UNESCO, yaitu: Level 1:Emerging – baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan; Level 2: Applying – baru mempelajari TIK (learning tom use ICT); Level 3: Integrating – belajar melalui dan atau meng-gunakan TIK (using ICT to learn); Level 4: Transforming – dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.
          Salah satu bentuk produk TIK yang sedang “ngetrend” saat ini adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
          Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian, maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.
         Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting: The Mind Starts at School”. Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai“cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi.   Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.
          Robin Paul Ajjelo juga mengemukakan secara ilustratif bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) alat-alat musik, (5) alat olah raga, dan (6) bingkisan untuk makan siang.   Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.
           Namun sayangnya, di negeri kita yang kaya ini, dan terdiri dari berbagai pulau, hal di atas masih seperti mimpi karena struktur dan kultur serta SDM guru yang profesional belum merata dengan baik. Di berbagai kota besar seperti Jakarta misalnya, beberapa sekolah maju dan internasional telah mengaplikasikannya, tetapi buat sekolah-sekolah di daerah, mungkin masih jauh panggang dari api dalam mengaplikasikan TIK.
           Meskipun TIK dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Terkadang anak-anak lebih senang bermain games ketimbang materi yang diberikan oleh guru. Karena games sangat menarik peserta didik untuk rehat sejenak dari segala pembelajaran yang diterimanya di sekolah. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dan sebagainya. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.
Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
 
          Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kultur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.
           Hal itu telah mengubah peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, ahli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.
             Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru, kini telah bergeser menjadi berpusat pada siswa.
Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain.
a. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, simulatif, dan menarik
b. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks
c. Mempercepat proses yang lama
d. Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi
e. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan
             Kurikulum TIK yang sekarang ini telah dibuat oleh pusat kurikulum yang bekerjsama dengan Badan standar Nasional (BSNP) adalah kurikulum standar yang terdiri dari SK (Standar Kompetensi), dan KD (Kompetensi Dasar) yang masih harus dikembangkan oleh guru itu sendiri dalam mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi sekolah. Guru TIK dituntut untuk membuat kurikulumnya sendiri sesuai dengan SK dan KD dengan berbagai ragam pengayaan yang dimiliki oleh guru di daerahnya masing-masing. Sayangnya, banyak guru yang belum siap membuat kurikulumnya sendiri dan masih banyak guru yang copy and paste dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Padahal dlam KTSP guru diberikan kebebasan untuk berkreativitas dalam memberikan materi pengayaan kepada para peserta didiknya.
PENUTUP DAN KESIMPULAN
          Aplikasi dan potensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa pergeseran pandangan tentang pembelajaran dan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah. Penerapan TIK dalam pembelajaran memungkinkan kegiatan belajar mengajar lebih interaktif, simulatif dan lebih menarik. Oleh karena itu guru di era globalisasi informasi ini dituntut untuk mampu menguasai dan mengalipkasikan TIK dalam pembelajaran. Mengajak peserta didik untuk mampu memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.     Mampu meciptakan informasi dengan membangun connecting and sharing.
Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang beriorientasi pada penerapan TIK akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan yang pada akhirnya dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di dunia.
          Bagaimanapun banyaknya dampak positif dalam penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah, kita mempunyai tanggungjawab bersama dalam meminimalisasi dampak negatif yang muncul baik secara individual, maupun sosial. Jangan iarkan anak-anak kita terlalu asyik dengan facebooknya dan games-games online lainnya. Anak harus diajarkan untuk mampu membaca dan menulis. Menciptakan informasi di dunia maya, walupun kita tahu dunia maya tak secantik Luna Maya yang terkena kasus dengan tulisannya di situs sosial Twitter.
           Mulai saat ini marilah kita tidak GATEK, dan tidak ALERGI dengan TIK. Siapa yang menguasai TIK, pasti dia akan menguasai dunia. Kita pun merasakan bahwa masih banyak yang harus disempurnakan untuk memperbaharui kurikulum TIK yang ada di sekolah-sekolah kita. Perlu kerjasama (kolaborasi) antara guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi untuk memperbaiki kualitas kurikulum TIK di Indonesia. Jangan sampai terjadi tumpang tindih materi dalam mengaplikasikan TIK. Semoga struktur dan kultur berjalan seimbang di sekolah-sekolah kita, sehingga aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah berjalan dengan baik dan sesuai dengan kurikulum yang diharapkan oleh pemerintah.
Makalah PTKI Kelompok 9
Dosen: Cecep Kustandi, M.Pd.
0

Virtual Learning

Pendahuluan
I.1           Latar Belakang
Banyak orang diseluruh Dunia mengakui pendidikan jarak jauh (Distance Learning) dapat digunakan sebagai salah satu cara yang efektif untuk mengatasi permasalahan yang sulit diatasi dengan cara konvensional. Permasalahan yang muncul  misalnya banyak anak usia sekolah tetapi tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena tinggal di tempat yang jauh dari sekolah, banyak anak maupun orang dewasa yang ingin memperoleh pendidikan tetapi tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena harus mencari nafkah atau pun ketika kecil tidak mendapatkan pendidikan yang baik.
Virtual Learning adalah salah satu system pendidikan jarak jauh yang bertujuan untuk mengevisiensikan dan mengefektifikan metode pembelajaran dengan menggunakan internet. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam proses pembelajaran dalam konsep Virtual Lerning ini.
Dalam system pembelajaran melalui internet isi pembelajaran disampaikan secara online. Dalam system pembelajaran ini siswa berdiskusi, belajar, bertanya dan mengerjakan soal soal latihan secara online. Semua proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa menuntut siswa hadir di ruang kelas tertentu, tetapi mereka berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan pelajaran seperti yang terjadi di kelas biasa
I.2  Tujuan
·         Memberikan Informasi yang berkaitan dengan Virtual Learning
·         Mengerjakan tugas makalah dan presentasi kelompok mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diempu oleh Bapak Cecep Kustandi, M.Pd.
I.3 Rumusan Masalah
– Apa itu Pendidikan Jarak Jauh?
– Apa saja jenis tutorial dan kelemahannya?
– Bagaimana menciptakan Virtual Classrom?
– Apa saja kelemahan Vitual Classrom?
– Sebutkan salah satu contoh virtual classroom?
– Apa saja keutungan kelas virtual untuk pengajar dan peserta didik?
Pembahasan
A. Definisi Pendidikan Jarak Jauh (Distance Learning)
                Banyak definisi yang digunakan untuk distance learning ini. JW. Keegan melakukan penelitian mengenai praktek penyelenggaraan dan definisi distance learning yang digunakan di berbagai Negara di dunia. Menurut dia ada 6 unsur dasar pengertian (six defining elements) yaitu:
·         Terpisahnya guru dan siswa. Karakteristik inilah yang membedakan distance learning dari pendidikan konvensional.
·         Adanya lembaga yang mengelola distance learning. Hal ini yang membedakan orang yang mengikuti distance learning dari orang yang belajar sendiri
·         Digunakan media sebagai sarana intuk menyajikan isi pelajaran. Misalnya melalui media elektronik, media massa dan media cetak.
·         Diselenggarakanya system komunikasi dua arah antara guru dan siswa, atau antara lembaga dan siswa sehingga siswa mendapatkan manfaat dari pembelajaran tersebut. Dalam proses ini siswa lebih berinisiatif untuk melalukan komunikasi.
·         Pada dasarnya pendidikan ini bersifat individual karena tidak tergantung dengan organisasi penyelenggaranya.
B.   Jarak transaksi dan cara menjembataninya
                Menurut Dewey dalam Moore(1903) menjelaskan bahwa transaksi pendidikan merupakan interaksi antara individu, lingkungan , dan perilaku yang terjadi dalam situasi tertentu. Transaksi pendidikan terjadi antara siswa dan guru dalam distance learning bersifat khusus karena keterpisahannya satu sama lain. Jarak transaksi ini dapat mengakibatkan perbedaan persepsi antara siswa dengan guru. Oleh karena itu perlu dijembatani supaya perbedaan persepsi itu dapat berkurang atau hilang. Menurut Moore (1903) jarak transaksi itu dapat di jembatani melalui komunikasi dan percakapan (dialoge). Artinya makin mudah dan semakin sering guru dan siswa berinteraksi semakin kecil kemungkinan terjadinya kesalah pahaman dalam menafsirkan isi pelajaran. Jadi dalam distance learning sangat lah penting interaksi guru dan muridnya agar proses belajar dapat terjadi dengan baik.
Moore (1983) mengatakan semakin baik media yang digunakan semakin baik proses pembelajaran akan berlangsung. Media yang digunakan juga sangat mempengaruhi ada tidaknya komunikasi, dialog, atau interaksi antara guru dan siswa. Kalau yang digunakan adalah tv, radio, atau buku kesempatan siswa untuk berinteraksi, berdialog dan berkomunikasi dengan guru sangat kecil. Audio conference, video conference, atau internet membuka lebih besar peluang terjadinya inteaksi antara guru dan murid sehingga kecil kemungkinan terjadinya perbedaan penafsiran isi pelajaran.
C. Beberapa jenis tutorial dan kelemahannya
Tutorial dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya tutorial tatap muka, tutorial surat menyurat, tutorial melalui telepon, tutorial audio dan video conference.
                a. Tutorial tatap muka
Siswa dan guru bertemu muka secara berkala untuk memberikan kesempatan kepada siswa menanyakan kesulitaan yang dihadapi siswa. Tutorial seperti ini sangat bagus mengurangi jarak transaksi antaraguru dan siswa. Denganb demikian kesalahahaman penafsiran isi pelajaran dapat diperkecil
Kekurangan yang ada dalam tutorial ini:
Tutorial tidak dapat dilakukan terlalu sering. Makin sering biayanya semakin mahal. Niassanya tutorial ini diadakan seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan hanya 2 atau 3 kali dalam satu semester. Hal ini menyebabkan  siswa harus menunggu lama untuk mengutarakan kesulitannya kepada guru. Tutorial ini biasanya bukan merupakan keharusan. Akibatnya banyak siswa yang  memilih tidak hadir
b. Tutorial melalui telepon atau surat
tutorial jenis ini tidak banyak dimanfaatkan siswa, padahal biayanya relative murah dan mudah melakukannya. Kendalanya mungkin tidak semua siswa mempunyai telepon ataupun sungkan menanyakan pelajaran kepada guru  melalui telepon atau surat. Disamping itu tutorial melalui surat jawabannya seringkali datangnya terlambat.
 c. Tutorial melalui konfrensi audio atau video
Tutorial ini jarang digunakan karena biayanya relative lebih mahal karena kebutuhan waktu, jaringan internet, dan tenaga pengajar.
D. Sistem pembelajaran melalui internet
                Dalam system pembelajaran melalui internet isi pembelajaran disampaikan secara online. Dalam system pembelajaran ini siswa berdiskusi, belajar, bertanya dan mengerjakan soal soal latihan secara online. Semua proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa menuntut siswa hadir di ruang kelas tertentu, tetapi mereka berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan pelajaran seperti yang terjadi di kelas biasa. System pembelajaran ini sering kali disebut e-learning, virtual learning, virtual classroom, atau virtual campus (Potter,1997).
Potensi utama virtual learning sendiri adalah dapat memberikan peluang siswa untuk berinteraksi secara synchoronous dengan guru, teman maupun bahan belajarnya. Selain guru dapat mengontrol aktivitas belajar siswa melalui internet, dan juga virtual learning dapat menyajikan bahan ajar lebih menarik dari pada proses yang terjadinya di kelas.
E. Menciptakan kelas VIRTUAL(virtual classroom)
    Pembelajaran multidimensi yang akan membawa proses pembelajaran kearah yang lebih kontekstual dan nyata. Sejauh ini dunia baru ini belum banyak disentuh dan dimanfaatkan oleh guru dan siswa untuk membantu pembelajaran di ruang-ruang kelas mereka.Padahal kelas/dunia virtual ini didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai dunia aslinya. Belajar di kelas virtual semacam ini memungkinkan kita (guru dan siswa) mendapatkan banyak manfaat dan akan mendapati kejutan-kejutan baru dalam belajar.Kejutan baru itu dapat kita rasakan mengingat sesuatu yang kita pelajari/belajarkan kadang hanyalah berupah gambaran abstrak tentang suatu fenomena,peristiwa atau hanya sebatas rumus-rumus belaka.Di kelas virtual inilah gambaran abstrak itu kian menjadi nyata dan memesona. Di kelas virtual ini Guru dan siswa dapat menggunakan simulasi dan visualisasi untuk memahami suatu konsep. Dimana dunia virtual memudahkan guru maupun siswa menyimulasikan berbagai materi pelajaran yang mungkin sulit dilakukan di dunia fisik. Misalnya mengenai perjalanan ke bulan, gempa bumi, tsunami, pembedahan jantung, peradaban Mesir, dll. Melalui dunia virtual, siswa juga bisa memvisualisasikan materi belajar seperti rangkaian DNA, tata surya, dansejenisnya. Dikelas ini juga Guru dan siswa bisa bertemu dan berdialog dengan berbagai ahli dari belahan bumi manapun. Kesempatan ini memungkinkan baik guru maupun siswa belajar dari sumber yang berkualitas. Kelas ini juga memudahkan Guru dan siswa melakukan darwa wisata (fieldtrip) dan belajar dari tempat-tempat yg dikunjungi tanpa biaya Tidak bisa kita pungkiri bahwa belajar langsung di tempat yang berhubungan dengan topik yang sedang diajarkan akan lebih berkesan bagi siswa. Tetapi sering kali biaya menjadi kendala dalam melakukan kegiatan ini di dunia fisik. Di dunia virtual, banyak sekali tempat baik itu tempat bersejarah seperti candi borobudur, tembok besar Cina, rekator nukir, NASA dan objek lain yang tersedia dan bisa dikunjungi kapan saja tanpa biaya.
      Pembelajaran virtual ini juga memudahkan Guru dan siswa melakukan kolaborasi antar sekolah dengan lebih mudah dan hampir tanpa biaya. Kolaborasi ini bisa dilakukan dengan jalan bertukar informasi dan pengetahuan maupun melakukan proyek pembelajaran bersama antar sekolah. Kesempatan ini memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang adil bagi keragaman peserta didik. Sebagaimana diketahui bersama bahwa sekolah-sekolah favorit dan besar lebih diuntungkan dari segi fasilitas dan SDM dibanding dengan sekolah kecil/swasta. Kolaborasi pembelajaran ini juga akan memperkecil kesenjangan antara sekolah yang sudah mapan dan berkualitas dengan sekolah yang berada di bawahnya baik dari aspek proses,ketenagaan maupun sarana dan prasarananya. Karenanya pembelajaran di kelas virtual ini akan semakin memudahkan dan memberikan secercah harapan baru akan hadirnya pembelajaran berkelas dunia dari ruang-ruang kelas kita,semoga kita bisa menjadi katalisator dari dunia yang semakin sempit ini.
            Menurut Potter(1997), menciptakan kelas virtual harus mempertimbangkan berbagai hal agar pembelajaran dapat terjadi dengan efektif
1.Dilengkapi dengan sumber belajar pada saat dibutuhkan siswa tersedia dan mudah diakses
2. Menyediakan ruang untuk percobaan dan penerapan sama seperti halnya system konvensional yang diberi kesempatan melakukan percobaan, menghadapi worksop, melakukan demonstrasi mengenai hasil pelaksanaan tugas.
3. Menyatukan siswa dan guru supaya merekabersilap terbuka dan bertukar gagasan
4. Memberikan harapan pada siswa untuk terjadinya proses belajar dan menciptakan lingkungan yang konduif untuk belajar.
5. Menjadi sarana sebagai pengembang kebebasan akademik. Contoh melakukan percobaan, dalam membuat asumsi, dalam berinteraksi dengan kelas lain tanpa harus ada rasa takut dan cemas.
6. Harus dapat memberikan penilaian terhadap kinerja siswa.
F. Kelemahan Kelas Virtual
            Kelas virtual diciptakan dengan bantuan internet. Ada beberapa kelemahan dari virtual class ini diantaranya:
Ø  Penggunaan internet memerlukan infrastruktur yang memadai
Ø  Penggunaan internet yang mahal
Ø  Komunikasi melalui internet sering kali lamban
Ø  Terjajadinya salah penafsiran
G. Kelas Online Gratis
Free Virtual Classroom  yang disediakan oleh WiZiQ adalah sebuah kelas online dimana pengajar dan yang diajar terhubung secara online. Kelas virtual ini akan menggunakan fitur audio-video conference, chatting, papan tulis, dan content sharing. Kelas ini gratis, alias tidak dipungut bayaran dalam penggunaannya. Kelas juga akan direkam dan akan bisa diakses lagi di WiZiQ yang nantinya bisa digunakan untuk kajian ulang atau referensi.
Peserta bisa mengikuti kelas dan bisa menikmati percakapan secara verbal dengan peserta lain di kelas yang sama, gambar atau tulis sesuatu di papan tulis serta berbagi file-file PowerPoint, PDF, Flash dan Gambar.
Beberapa keuntungan untuk Pengajar
*Menyediakan sistem utuh manajemen pengajaran online tanpa menginstall software apapun
*Pengajar mendapatkan kelas virtualnya tanpa biaya apapun
*Jadwal online  bisa diatur sesuai keinginan dan waktu dari pengajar
*Pengajar bisa berinteraksi dengan peserta ajarnya melalui papan tulis online, apakah itu berupa tulisan atau dokumen, dan dengan two-way audio dan fitur chatting
*Pengajar bisa membuat account profilenya
*Kelas bisa berupa one-on-one class atau terdiri dari beberapa orang dalam satu kelas
*Pengajar bisa dan diperkenankan meminta bayaran pada peserta ajarnya

Beberapa keuntungan untuk Peserta Ajar
*Peserta bisa mencari pengajarnya sendiri
*Belajar dari rumah, langsung melalui internet dengan browser yang mudah dipahami dan digunakan, tanpa menginstall apapun
*Bisa mengakses tutorial sesuai dengan materi ajar pilihan.

Kesimpulan & Saran
Kesimpulan
                Semakin diminatinya pendidikan jarak jauh haruslah mementingkan aspek efektifitas dari pembelajarannya tersebut. Pendidikan jarak jauh (distance learning) juga harus di imbangi dengan ada nya insfrastrukur yang baik. Karena melaksanakannya juga butuh biaya yang mahal pada saat ini hanya dapat di kembangkan untuk daerah perkotaan. Jadi agar kondisi pendidikan tidak tertinggal, kelas virtual atau distance learning ini sangat lah membantu dan perlu dikembangkan.

Saran
1.       E-learning virtual classroom harus terus dikembangkanterutama oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
2.       Antara siswa dan pengajar harus ada komitmen yang kuat agarpenyelenggaraan e-learning virtual classroom mencapai tujuanpembelajaran yang ditargetkan.
Makalah PTKI Kelompok 8
Dosen: Cecep Kustandi, M.Pd.
0

Contoh Penerapan Model Komunikasi dalam Pembelajaran

 

Model Laswell

Model komunikasi Laswell :

Who : Komunikator

In which channel : Wahana apa yang mendukung

Whom : Tujuan pesan

With what effect : Dampak/efek/perubahan sikap

Jika model komunikasi tersebut diterapkan dalam pembelajaran serta dikaitkan dengan mata kuliah desain pembelajaran tentang materi tujuan pembelajaran dengan teknik ABCD maka dapat dilihat dari contoh ilustrasi berikut :

 

Pada suatu kegiatan pembelajaran di kelas 10 SMA, dalam 2 jam pelajaran seorang guru mata pelajaran kimia sedang menjelaskan materi tentang unsur-unsur kimia dalam tabel periodik unsure dengan menampilkan presentasi dengan powerpoint untuk 1 jam pertama. Setelah ia menjelaskan materi tersebut ia kemudian menyuruh para muridnya untuk menghafal unsur-unsur golongan satu seperti dalam penjelasan tadi dalam waktu 1 jam pelajaran selanjutnya.

 

Dari ilustrasi diatas jika dikaitkan dengan model komunikasi Laswell, serta metode tujuan pembelajaran tipe ABCD maka diperoleh :

Who                             :           Guru Kimia sebagai komunikator

 

In which channel         :           Powerpoint sebagai media untuk menyampaikan materi,

Dalam hal ini powerpoint juga digunakan sebagai sarana (condition) (C) dalam pembuatan tujuan pembelajaran dengan ABCD.

 

Whom                         :           Siswa kelas 10 di dalam kelas, para siswa disini juga

termasuk kedalam (Audience) (A) dalam tujuan pembelajaran ABCD yaitu sebagai peserta didik.

 

With what effect         :           Siswa mampu mengerti serta mampu menyebutkan unsur-

unsur kimia seperti apa yang diperintahkanguru tersebut dalam waktu 1 jam pelajaran, dalam hal ini kemampuan siswa menghafal dan menyebutkan unsur-unsur kimia seperti apa yang diperintahkan masuk ke dalam (Behavior) (B) serta kemampuan siswa menghafal dan menyebutkannya dalam waktu 1 jam pelajaran masuk kedalam (Degree) (D) dalam pembuatan tujuan pembelajaran dengan teknik/metode ABCD.

 

 Dosen :  Ibu Murti Kusuma Wirasty

Eka Safitri

(1215121101)

0

Model Komunikasi Schramm

Dari bentuknya, model komunikasi dasar terbagi menjadi 2,yaitu :
· Model komunikasi linear satu arah
· Model komunikasi sirkuler

 

MODEL-MODEL KOMUNIKASI LINEAR : SATU ARAH
          Model ini didasari paradigma stimulus-respon.Komunikan adalah makhluk pasif, menerima apapun yang disampaikan komunikator kepadanya. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pasif menerima pesan, pesan berlangsung searah dan relatif tanpa umpan balik, karena itu disebut linear. (Model Aristoteles,Model Laswell, Model Braddock,Model Shannon-Weaver)
MODEL-MODEL KOMUNIKASI SIRKULER : DUA ARAH
          Kedudukan komunikator dan komunikan relative setara. Munculnya paradigma baru ini merupakan pemisahan dari paradigma yang lama tentang komunikasi yang linear. Model sirkuler dikritik karena adanya kesamaan tingkat (equality)antara komunikator dan komunikan.(Model Schramm,Model De Fleur,Model Helical Dance)
Model Komunikasi Menurut Schramm;

Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu.

1. Model yang pertama mirip dengan model Shannon dan Weaver. Schramm menggunakan unsur source dan destination tapi tidak memunculkan transmitter dan receiver, yang ada adalah encoder (alat penyandi) dan decoder (alat penyandi balik). Menurut model ini, source boleh menjadi seorang individu atau organisasi, sinyalnya adalah bahasa dan destination-nya adalah pihak lain kepada siapa sinyal itu ditujukan.Dalam komunikasi lewat radio, encoder dapat berupa microphone dan decoder adalah earphone. Dalam komunikasi antarmanusia source dan encoder adalah satu orang sementara decoder dan destination pada sisi yang lainnya.
2. Dalam modelnya yang kedua, Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran-lah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Itulah sebabnya pada modelnya yang kedua ia mulai menyatukan source (sumber) dengan encoder(alat penyandi) yang semula terpisah. Demikian pula halnya dengan decoder (alat penyandi balik) yang ditempelkan dengan destination (tujuan/sasaran). Selain itu, ia menambah unsur field of experience (bidang pengalaman) yang dimiliki kedua pelaku komunikasi. Source menyandi (encode) dan destination menyandi balik (decode) pesan berdasarkan pengalaman yang dimiliki masing-masing. Semakin besar luas bidang pengalaman source yang berhimpitan dengan bidang pengalaman destination, semakin mudah komunikasi dilakukan. Bila kedua bidang itu tidak bertautan atau sangat sedikit pertautannya artinya
3. Di Model ketiga, Schramm menganggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang melakukan fungsi encoder/encoding(menyandi), interpreter/interpreting (menafsirkan), decoder/ decoding (menyandi-balik), mentransmisikan dan menerima sinyal., Di sini kita melihat umpan balik(message) dan ”lingkaran” yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.

          Pada model ketiga ini, Schramm bekerjasama dengan Osgood sehingga dikenal sebagai model sirkular Osgood dan Schramm (The Osgood and Schramm Circular Model) Menurut Schramm seperti ditunjukan pada model ini, jelas bahwa setiap orang dalam proses komunikasi dapat sekaligus sebagai encoder dan decoder yang secara konstan menyandi balik tanda-tanda disekitar kita. Memberikan kode bisa juga disebut chanel, sedangkan proses kembali pesan tersebut disebut feedback atau umpan balik yang memainkan peran sangat penting dalam komunikasi. Karena itu memberi tahu kita bagaimana pesan yang kita tafsirkan baik dalam bentuk kata-kata sebagai jawaban, anggukan kepala, gelengan kepala, salah satu alis yang dinaikan dan sebagainya. Begitu juga dalam surat pembaca di media cetak seperti surat kabar. Surat pembaca ditujukan kepada redaksi sebagai protes atas editorial yang ditulis pada surat kabar tersebut ataupun tepuk tangan pendengar ceramah.
Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty
0

Model Komunikasi Shannon-Weaver

          Model ini membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumber daya informasi (source information) yang menciptakan sebuah pesan (message) dan mengirimnya dengan suatu saluran (channel)kepada penerima (receiver) yang kemudian membuat ulang (recreate)pesan tersebut. Dengan kata lain, model ini mengasumsikan bahwa sumberdaya informasi menciptakan pesan dari seperangkat pesan yang tersedia. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang dipakai. Saluran adalah media yang mengirim tanda dari pemancar kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, pemancar adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh udara. Penerima adalah mekanisme pendengaran yang kemudian merekonstruksi pesan dari tanda itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam model ini adalah gangguan. 
Mengenal Teori Shannon-Weaver
          Sebagai peneliti untuk perusahaan telekomunikasi, Shannon tentu saja tertarik terhadap efisiensi mengirim infomasi melalui saluran telegram dan telepon yang waktu itu belum berkembang seperti saat ini. Untuk itu, Shannon perlu memandang informasi sebagai simbol-simbol yang dipertukarkan dalam komunikasi antar manusia. Secara khusus, dia harus menjelaskan bagaimana alat dan saluran komunikasi mengirim simbol-simbol itu dari satu titik di suatu tempat ke titik lain di tempat lainnya. Ini dikenal sebagai transmisi informasi.
          Bagi laboratorium Bell tempat Shannon bekerja, kapasitas, efisisiensi, dan efektivitas transmisi ini menjadi amat penting untuk pengembangan jaringan telepon. Shannon lalu menggunakan pendekatan matematik yang memudahkan manusia mereduksi gejala rumit agar mudah dipahami, dan kemudian menghitung atau mengukur gejala tersebut untuk mencapai efisiensi teknologi.
          Setahun setelah Shannon mengajukan pemikiran matematisnya di jurnal perusahaan Bell, teori ini dikembangkan lebih jauh bersama seorang rekannya, Warren Weaver, untuk menjadi buku. Di dalam buku inilah mereka menegaskan bahwa untuk memahami informasi, kita perlu berasumsi bahwa semua tujuan komunikasi adalah mengatasi ketidakpastian (uncertainty). Teori yang dikembangkan Shannon dan Weaver menyederhanakan persoalan komunikasi ini dengan memakai pemikiran-pemikiran probabilitas (kemungkinan).
          Jika kita melakukan undian dengan melempar sebuah uang logam, hasil undian itu dianggap bernilai satu bit informasi karena mengandung dua kemungkinan dan setiap kemungkinan mengandung nilai 0,5 alias sama besar dari segi kesempatan undian. Dari pemikiran dasar yang sederhana ini, Shannon dan Weaver menyatakan bahwa semua sumber informasi bersifat stochastic alias probabilistik (bersifat kemungkinan). Jika kemungkinan tersebut bersifat tidak mudah diduga, maka derajat ketidakmudahan ini disebut sebagai entropy.
          Melalui pernyataan-pernyataan matematis, Shannon (dan lalu juga Weaver) menunjukkan hubungan antara elemen sistem teknologi komunikasi, yaitu sumber, saluran, dan sasaran. Setiap sumber dalam gambaran Shannon memiliki tenaga atau daya untuk menghasilkan sinyal. Dengan kata lain, pesan apa pun yang ingin disampaikan melalui komunikasi, perlu diubah menjadi sinyal, dalam sebuah proses kerja yang disebut encoding atau pengkodean. Sinyal yang sudah berupa kode ini kemudian dipancarkan melalui saluran yang memiliki kapasistas tertentu. Saluran ini dianggap selalu mengalami gangguan (noise) yang mempengaruhi kualitas sinyal. Memakai hitung-hitungan probabilitas, teori informasi mengembangkan cara menghitung kapasitas saluran dan kemungkinan pengurangan kualitas sinyal. Sesampainya di sasaran, sinyal ini mengalami proses pengubahan dari kode menjadi pesan, atau disebut juga sebagai proses decoding.
          Teori informasi Shannon juga menganggap bahwa informasi dapat dihitung jumlahnya, dan bahwa informasi bersumber atau bermula dari suatu kejadian. Jumlah informasi yang dapat dikaitkan, atau dihasilkan oleh, sebuah keadaan atau kejadian merupakan tingkat pengurangan (reduksi) ketidakpastian, atau pilihan kemungkinan, yang dapat muncul dari keadaan atau kejadian tersebut. Dengan kata yang lebih sederhana, teori ini berasumsi bahwa kita memperoleh informasi jika kita memperoleh kepastian tentang suatu kejadian atau suatu hal tertentu.
          Keunggulan teori Shannon-Weaver terletak pada kemampuannya membuat persoalan komunikasi informasi menjadi persoalan kuantitas, sehingga sangat cocok untuk mengembangkan teknologi informasi. Kritik terhadap teori mereka datang dari kaum yang mencoba mengaitkan informasi dengan makna dan kandungan nilai sosial-budaya di dalam informasi. Sampai sekarang, perdebatan tentang apakah informasi adalah sesuatu yang kuantitatif atau kualitatif masih terus berlangsung. Ada yang mencoba mengambil kebaikan dari kedua pihak dengan mengatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang berwujud dan sekaligus bersifat abstrak.
Jasa Shannon-Weaver terletak pada kepioniran mereka memperkenalkan diskusi dan aplikasi informasi ke dalam kehidupan manusia. Apa yang sekarang kita alami dan nikmati, adalah hasil perkembangan dari pemikiran mereka juga.
Mathematical Theory of Shannon & Weaver
Claude Shannon
          Karya Shannon dan Weaver, Mathematical Theory of Communication (1949), adalah salah satu pelopor teori komunikasi, dan juga dianggap sebagai salah satu teori komunikasi yang tertua. Teori ini juga salah satu contoh yang paling jelas dari Mahzab Proses, yaitu aliran yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan.
           Fokus utama teori ini adalah untuk menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi dapat digunakan secara efisien. Bagi mereka, saluran utamanya adalah kabel telepon dan gelombang radio. Mereka mencetuskan teori yang memungkinkan mereka mendekati masalah bagaimana mengirim sejumlah informasi yang maksimum melalui saluran yang ada, dan bagaimana mengukur kapasitas dari suatu saluran yang ada untuk membawa informasi. Mereka menggunakan asumsi bahwa komunikasi antar manusia (human communication) itu ibarat hubungan melalui telepon dan gelombang radio.
          Sumber (source) dipandang sebagai pembuat keputusan (decision maker), yaitu sumber yang memutuskan pesan mana yang akan dikirim. Pesan yang sudah diputuskan untuk dikirim kemudian diubah oleh transmiter menjadi sebuah sinyal yang dikirim melalui saluran kepada penerima (receiver).   Diumpamakan telepon, salurannya adalah kabel, sinyalnya adalah arus listrik di dalamnya, dan transmiter dan penerimanya adalah pesawat telepon.
          Shannon dan Weaver mengidentifikasi tiga level masalah (noise) dalam studi komunikasi. Ketiga hal tersebut adalah:
Level A (masalah teknis)
Bagaimana simbol-simbol komunikasi dapat ditransmisikan secara akurat?
Level B (masalah semantik)
Bagaimana simbol-simbol yang ditransmisikan secara persis menyampaikan makna yang diharapkan?
Level C (masalah keefektifan)
Bagaimana makna yang diterima secara efektif mempengaruhi tingkah laku dengan cara yang diharapkan?
Warren Weaver
          Ibarat sedang berkomunikasi lewat telepon, gangguan teknis adalah tentang apakah telepon kita berfungsi baik atau tidak. Jika telepon yang kita gunakan sinyalnya tidak jelas atau putus-putus, sehingga suara kita tidak terdengar dengan jelas oleh lawan bicara kita, maka hal ini termasuk ke dalam gangguan (noise) teknis.
          Pada noise yang kedua, gangguan level semantik, adalah sejauh mana kata-kata atau komunikasi yang kita lakukan melalui telepon tadi dapat dipahami atau ditangkap sesuai apa yang kita maksudkan. Mungkin secara teknis, suara kita sudah dapat didengar dengan cukup jelas oleh lawan bicara kita, tapi belum tentu apa maksud dari pembicaraan atau dari kata-kata kita dipahami atau ditangkap secara baik oleh lawan bicara kita itu.
          Sedangkan pada level yang ketiga, gangguan masalah keefektifan adalah persoalan tentang sejauh mana kata-kata atau komunikasi yang kita lakukan terhadap lawan bicara kita mampu mempengaruhi tingkah laku orang tersebut agar mau melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak kita. Gangguan pada level ini adalah persoalan behavioral. Pada level ini pula, komunikasi dilihat oleh Shannon dan Weaver sebagai alat propaganda.
          Jika ternyata komunikasi yang dilakukan tidak berhasil mengubah perilaku lawan bicara kita agar mau mengikuti apa-apa yang dimaksudkan oleh komunikator, maka komunikasi yang dilakukan dianggap mengalami gangguan atau noise. Lebih dari itu komunikasi yang dilakukan dilihat juga sebagai komunikasi yang tidak efektif, atau komunikasi yang gagal.
           Dalam sudut pandang ini, teori Shannon dan Weaver selanjutnya dianggap mamandang persoalan komunikasi sekedar sebagai hitung-hitungan yang matematis. Lebih jauh lagi, komunikasi pada nantinya dibuat sedemikian rupa agar mampu memanipulasikan pesan dan saluran guna mencapai level keefektifan komunikasi yang optimal, yaitu mampu mengubah orang lain mengikuti apa-apa yang diinginkan oleh seorang komunikator.
Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty
0

9 Perilaku Komunikasi dalam Pembelajaran

9 Perilaku komunikasi dalam pembelajaran :

 

1A. Perilaku simtomatik yang tidak dipersepsi

–       Ketika ada seorang peserta didik yang melamun ketika perkuliahan sedang berlangsung tetapi tidak ada seorang pun yang menyadari serta melihat hal itu.

1B. Simtom yang dipersepsi secara insidental

–       Ketika ada seorang peserta didik yang sedang melamun pada saat perkuliahan berlangsung kemudian ada seorang temannya yang menyadari bahwa peserta didik tersebut sedang memikirkan hal lain serta tidak berkonsentrasi dengan apa yang sedang dibicarakan dosen pada saat perkuliahan berlangsung, meskipun temannya tersebut tidak memperhatikannya tadi.

1C. Simtom yang diperhatikan

–       Ketika perkuliahan sedang berlangsung, kemudian seorang peserta didik melamun ketika dosen sedang menjelaskan didepan dan kemudian dosen itu menyadari dan kemudian bertanya pada peserta didik tersebut “Mengapa anda tidak memperhatikan apa yang sedang saya jelaskan didepan?”

2A. Pesan nonverbal yang tidak diterima

–       Ketika sedang ada diskusi atau presentasi dikelas kemudian ada satu peserta yang mengangkat tangannya untuk bertanya, tetapi moderator atau yang lainnya tidak melihat atau memperhatikannya.

2B. Pesan nonverbal insidental

–       Moderator ada anggota kelompok yang sedang memimpin diskusi atau presentasi didepan kemudian berkata kepada peserta tersebut, “Maaf jika kami tidak merespon anda ketika anda mungkin tadi ingin bertanya, karena kami juga sedang menanggapi teman yang lain yang juga ingin bertanya, serta kami baru menyadari kalau anda ingin bertanya ketika kami selesai menutup sesi tanya jawab tadi.”

2C. Pesan Nonverbal yang diperhatikan

–       Ketika peserta diskusi tersebut mengangkat tangan untuk bertanya, dan moderator atau kelompok yang sedang berdiskusi atau presentasi menanggapi peserta tersebut dan mempersilahkannya untuk bertanya.

3A. Pesan verbal yang tidak diterima

–       Ketika seorang peserta didik ingin mengirim surat ijin keterangan untuk berhalangan hadir tetapi surat itu terjatuh dan hilang sebelum sempat diberikan.

3B. Pesan verbal insidental

–       Ketika ada seorang mahasiswa yang ingin menanyakan tentang suatu hal dengan seorang dosen yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu seperti sedang mengetik dilaptopnya, walaupun dosen tersebut tahu kalau mahasiswa tersebut sedang berbicara kepadanya tetapi ia tidak begitu memperhatikan mahasiswa tersebut tetapi tetap mengerti apa yang sedang dibicarakan atau ditanyakan mahasiswa tersebut.

3C. Pesan verbal yang diperhatikan

–       Seperti halnya dalam sebuah diskusi kelompok, ketika salah satu dari anggota kelompok tersebut menyampaikan pendapatnya kepada anggota kelompok yang lain dan anggota yang lain juga mendengarkan serta memberikan respon pada temannya yang sedang berbicara tersebut.

 

Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty

­